Diantara

Media: Oilpaint, Akrilik, Kanvas

Ukuran : 180 x 200 x 1 cm

Tahun: 2010

Diantara

Diantara

Sonata Waktu

Media: Oilpaint, Akrilik, Kanvas

Ukuran : 180 x 200 x 1 cm

Tahun: 2009

Sonata Waktu

Sonata Waktu

Sahabat?

Media: Oilpaint, Akrilik, Kanvas

Ukuran : 180 x 200 x 1 cm

Tahun: 2009

Sahabat ?

Sahabat ?

Poliklinik Seni Alternatif (POSA)

Hasil Karya

Hasil karya anak-anak dampingan Pulau Selayar, Sulawesi Selatan dari tanah liat.

 Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang terjadi pada setiap mahluk. Pada manusia, terutama dalam masa kanak-kanak, proses tumbuh kembang ini terjadi dengan sangat cepat. Dimulai janin, bayi dalam kandungan seorang ibu terus mengalami perubahan, dan perubahan tersebut jelas semenjak sang bayi lahir ke alam semesta. Perubahan yang terjadi pada seseorang tidak hanya meliputi apa yang kelihatan (kasat mata) seperti perubahan fisik (kebutuhan) dengan bertambahnya berat dan tinggi badan, tetapi juga perubahan perkembangan dalam segi lain seperti berfikir, perasaan, tingkah laku, imajinasi, kreatifitas dan sebagainya.

Perkembangan yang dialami dan dilalui sang anak tidaklah terjadi secara kebetulan/sembarangan, melainkan merupakan proses perubahan yang teratur, tahap demi tahap perkembangan berikutnya. Sehingga merupakan kekeliruan yang besar jika orang tua atau masyarakat beranggapan bahwa anak kecil belum perlu mendapat pengenalan, pelatihan atau pengajaran sesuatu kemampuan. Padahal justru sebaliknya dimulai dari usia dini tersebut merupakan awal terbentuknya dasar-dasar (fondasi) dari kemampuan pengindraan, berpikir, ketrampilan berbahasa, berkreasi, berimajinasi, bertingkah laku sosial dan sebagainya.

Banyak cara dan sistem untuk melatih kemampuan yang ada pada anak, namun dewasa ini masih banyak cara pengajaran yang kurang berperspektif anak. Faktor yang paling mendukung kondisi ini adalah kurang terpenuhinya Alat Permainan Edukasi (APE). Hal ini terjadi karena ada kesan dan anggapan di kalangan masyarakat luas bahwa Alat Permainan Edukasi yang bisa membantu menstimulasi kemampuan sang anak selalu berharga mahal dan berkesan mewah. Dengan latar belakang permasalahan tersebut diata kami POSA (Poliklinik Seni Alternatif) yang berdiri pada tahun 1978 di Yogyakarta, mulai tahun 2003 ini bertekad bulat menjawab tantangan, terutama di dalam pengadaan pembuatan Alat Permainan Edukasi dengan menitik beratkan pada kearifan lokal, jenius lokal, kemahiran lokal, ketrampilan lokal, budaya lokal dengan memanfaatkan material lokal setempat, limbah plastik, limbah koran, limbah kayu, limbah bambu dan segala bentuk limbah yang diberdayakan, dibudidayakan untuk menghasilkan Alat Permainan Edukasi yang berbasis budaya lokal.

anak-anak kab Janeponto

Anak-anak Kabupaten Janeponto, Sulawesi Selatan membuat mobil-mobilan dari limbah sampah laut

Joseph Praba mendalami ECCD (Early Childhood Care Development) dan APE lokal di Nepal dan India, bekerja sama dengan Plan International mengadakan identifikasi jenis permainan dan mainan tradisional di propinsi Sulawesi Selatan (Makasar, Jeneponto, Takalar, Bantaeng, Selayar). Dilanjutkan ke Lombok Timur, Sumbawa Besar, Dompu, Kebumen, Kulonprogo, Gunungkidul, Bogor, Pacitan dan Surabaya dengan tak ketinggalan Daerah istimewa Yogyakarta. Dari hasil identifikasi budaya lokal tersebut, sebagian sudah diterbitkan menjadi buku dan satu kegiatan Festival “Dolanan” Anak di Makasar, Lombok, Bogor dan Yogyakarta.  

Festival Akarena

Anak-anak mempersiapkan diri untuk mengikuti Festival Akarena di benteng Sombaopu, Makasar

Kegiatan POSA Yogyakarta selain membuat mainan anak-anak untuk kelompok bermain dan taman kanak-kanak, juga mengadakan bentuk kegiatan umum berupa:

  1. Assesment, penggalian, sosialisasi ragam jenis mainan anak.
  2. Pelatihan, melatih guru TK, Kader Posyandu, pemuda untuk membuat APE berbasis budaya lokal.
  3. Pendampingan, secara bersama-sama dengan masyarakat mengadakan pembuatan APE berbasis budaya lokal.
  4. Lokakarya, bagian dari sosialisasi APE lokal disertai praktek.

    anak-anak Gunung Kidul

    Anak-anak Gunung Kidul, Wonosari, Yogyakarta sedang berlatih gamelan

Banyak tenaga-tenaga relawan dan para pendamping anak sudah bisa berdiri sendiri mendirikan taman bermain dan taman kanak-kanak. Bahkan ada yang menjadi pengusaha memproduksi APE di Yogyakarta, Makasar, Bogor dan Lombok.

Konser Goa Gong

Kata Pengantar Konser Goa Gong

Pada tahun 1990, pertama kali saya mengunjungi Goa Gong yang terletak di desa Bomo,  kecamatan Punung, kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Semenjak awal pandangan pertama, saya langsung jatuh cinta padanya. Goa Gong yang sangat berkesan dalam hatiku dan goa yang paling spektakuler diantara goa batu yang pernah saya kunjungi di bumi ini.

Goa batu yang cukup lebar, disana-sini tumbuh stalagtit dan stalagmit, bila dipukul akan mengeluarkan bebunyian yang amat spektakular dan sangat fantastis sekali.

Saya sangat senang bisa membuat konser Goa Gong dan berterimakasih kepada Pemerintah Daerah Pacitan yang telah memberikan ijin dan bantuan penuh atas terselenggaranya acara konser tersebut.

Sudah lama saya meminati pada tempat-tempat mistik, dengan mitos-mitos Indonesia, seperti pada cerita Nyi Roro Kidul yang menguasai Laut Kidul. Untuk kerja konser Goa Gong ini, saya bekerjasama dengan kelompok seniman dan sekalian sahabat-sahabat lamaku, baik yang berasal dari Bali maupun Yogya.

Konsep musik Goa Gong adalah satu konsep interkultural dan konsep dialog antara kerajaan alami dan suara seni manusia. Angin laut dari atas bukit Goa Gong akan ikut menyemarakkan pesta bersama angin seruling Eropa. Batu-batu stalagmit dan stalagtit akan menjawab suara manusia dengan media elektronik. Pengalaman estetik musik Indonesia akan bersentuhan mengadakan gesekan dengan ide musik kontemporer Eropa. Dari hasil perkawinan inilah akan menyatukan suara tradisional, suara kontemporer dan suara ritual.

 

Prosesi menuju Goa Gong

Prosesi menuju Goa Gong

 

Pembukaan Konser Goa Gong

Pembukaan Konser Goa Gong

 

Konser Goa Gong terdiri dari tiga katub, musik katedral alami (Beery Batshelet Tukijo suling, pita rekam, musik gamelan batu Goa Gong – kelompok musisi) dan musik instalasi bunyi “sound of wind” karya Josep Praba. Ketiga struktur komposisi diharapkan menjadi satu kesatuan yang utuh dan harmonis.

Goa Gong sengaja dipilih untuk dijadikan ajang kolaborasi para seniman bunyi-musik dan gerak tingkat dunia, dengan pertimbangan, Goa Gong adalah goa yang masih perawan dan baik kondisinya. Dari pertimbangan akustik, Goa Gong sangat mendukung sebuah gagasan murni dari sebuah ide yang berangkat dari alam raya.

Made Beery Tukijo, ilmuwan dari berbagai disiplin ingin membuat komposisi di dalam goa dengan melibatkan musik katedral – 4 speaker dolby – flute, memakan tempo 12 menit. Disini Beery mengajak kita untuk kembali hidup dalam keselarasan, baik secara jasmani yang sehat juga iman yang kudus.

Joseph Praba, seniman instalasi bunyi dan gerak, secara perlahan lewat mixer (Sanggar Pelangi Yogya) memasukkan unsur-unsur bunyi  yang  berada di luar goa. Misalnya bunyi gelombang laut – air memecah batu karang dan angin yang membawa segala sumber bunyi.

Bunyi-bunyi tersebut digiring lewat pipa-pipa paralon dan logam, yang didalam pipa tersebut dipasang kawat-kawat tembaga – kuningan, senar gitar dan piano. Gagasan yang menurut Beery, komponis dunia, instalasi bunyi Joseph Praba adalah yang pertama kali di dunia.

Di sela tingkah kolaborasi Joseph Praba dan Beery Tukijo, Barni Palm secara perkusif memperlakukan beragam jenis bebatuan dalam Goa Gong dengan sangat musikalitas.

 

Joseph Praba mempersembahkan sesaji gong

Joseph Praba mempersembahkan sesaji gong

 

Upacara berkah di Goa Gong

Upacara berkah di Goa Gong

Sebelum acara konser dimulai, ada sajian performance dengan nafas muji dan puji bagi segala keagungan cipta-Nya. Wayan S. Jiwatman dan Guntur dkk kesemuanya mahasiswa ISI Tari dan teater secara intens merespon gejala lingkungan, disini misalnya sifat laut, gunung, burung dan Pacitan yang sangat panas dan sebagainya, secara ritual unsur alam disenyawakan dengan tubuh artis dan dikembalikan bersama wujud tenaga dalam, yaitu persenyawaan sisi kedalaman olah batin dengan sentuhan artistik.

Dari kecamatan Punung, yang dikoordinator Bapak Camat Endra Waluya, dan Ibu Kepala Desa Bomo, Bu Turami, menggerakkan partisipasi masyarakatnya membantu konser dan juga suguhan berupa reog, tayub – gamelan goa tabuhan dan sebagainya.

Panitia Desa Bomo - Pacitan, seluruh pemain Konser Goa Gong dan Bu Lurah Sulami

Panitia Desa Bomo - Pacitan, seluruh pemain Konser Goa Gong dan Bu Lurah Sulami

Rombongan pendukung konser goa Gong berangkat dari Yogya tanggal 20 September 1997 dan ditampung di desa Bomo, di rumah-rumah penduduk. Penduduk selain membantu keamanan disel dan tenaga kerja, juga menyediakan konsumsi artis ala kadarnya selama sepuluh hari.

 

Koordinator daerah Konser Goa Gong

Joseph Praba

 

Konsep Instalasi bunyi “Pipa-pipa”

Pipa-pipa paralon didirikan dalam berbagai posisi. Ada yang tegak lurus, ada yang datar dan sebagainya.bangunan pipa-pipa yang posisinya beraneka ragam, berfungsi untuk menangkap segala bunyi-bunyi yang terdapat di udara, terbawa angin dan getaran gelombang air laut yang ditimbulkan oleh pantai laut kidul.

Supaya getaran bisa bertahan agak lama di dalam pipa, dawai senar logam dipasang di dalam pipa.

Pipa-pipa sudah berubah fungsi menjadi ruang resonansi. Getaran yang sudah menjadi bunyi ditangkap oleh mike yang dihubungkan dengan seperangkat instrumen elektronik, sound dystem. Pipa-pipa yang kurang lebih berjumlah delapan, menempati jalur-jalur tersendiri, yang dipisahkan melalui mixer. Alat ini yang sekaligus memasak bunyi-bunyi tersebut. Hasil pengolahan di mixer dikeluarkan lewat kotak-kotak speaker yang berukuran berbeda-beda, sesuai dengan fungsi dan kebutuhan masing-masing.

Bunyi "Pipa-pipa"

Bunyi "Pipa-pipa"

Mixer sudah sebagai pusat atau dapur. Komponis mengeluarkan berbunyian hasil pengolahan mixer, dengan membuka volume secara bergantian, sesuai dengan komposisinya.

Komposisi  bunyi angin sangat menarik dengan ditingkahi bunyi batu Goa Gong dan bunyi-bunyi komposisi Beery Tukijo, perkusi Barni Palm, Wayan Jiwatman dan Jamaludin (Jamal El Triport).

 Komposisi bunyi jelas bukan komposisi musik yang biasa kita kenal. Instalasi bunyi cenderung sangat lebih bebas di dalam menggunakan materi bunyi. Hukum, rumus atau pakem bunyi jelas tidak ada, seperti pada hukum bunyi diatonis yang sudah ada hukumnya.

Bernyanyi gregorian dalam Goa Gong Pacitan

Bernyanyi gregorian dalam Goa Gong Pacitan

Walaupun demikian kebebasan di dalam menggunakan sumber-sumber bunyi bukan berarti cenderung liar atau anarkis, tidak. Bebunyian masih dimasak di dapur mixer, dikomposisikan, diserasikan dengan materi bunyi yang lain, sehingga kesan yang timbul adalah keteraturan bunyi-bunyi sesuai harapan komponisnya.

 

SUITA GOA GONG

ada deru – ada deram ditepi cerita

berlalu sendu – bertalu-talu

tepinya berpasir, debu berlalu

onggok ubi digoyang, setampai beras

dipangku ombak laut kidul

 

adalah selalu bertanya dan harap

buah semangka tumbuh di stalagtit,

buah apel bergantung di stalagmit

periuk akik di dalam kulkas

 

ia… ia… bertanyalah…

lalu… lalu… berharaplah

goa berpintu jemari besi, kerangka robot

bisakah ia menyimpan legenda di sini ?

disket – internet menggeliat di sisimu

bertanyalah

jaman menjawab !

 

Joseph Praba

 

Kelompok pendukung Konser Goa Gong

Made Beery Bernhard A. Batschelet Tukijo, Swiss

(konsep, musik katedral alami, seruling, gamelan batu Goa Gong)

Lahir di Basel, Switzerland, 1956. Pendidikan musik. Diploma sebagai guru dan pemain tunggal flute di Swiss. Masuk UCSD (University of California, San Diego) 1978-1986. Gelar MA dan Ph.D dalam bidang musik dan musikologi. Ikut mendirikan kelompok musik kontemporer SUNOR dan kelompok gamelan Jawa di UCSD. Beberapa proyek arsitektur taman di California. Sejak 1987 bekerja freelance sebagai komposer, pemain flute, produser peristiwa performance, instalasi, obyek seni, politisi dan pendaki gunung. Sejak delapan tahun pertukaran kebudayaan yang intens antara Bali, Jawa, Sumatera Barat dan Switzerland.

Joseph Praba, Yogyakarta

(koordinator eksekutif, penyelaras konsep, instalasi bunyi, gamelan batu Goa Gong)

Komponis dan seniman instalasi ini mulai belajar komposisi musik pada Jack Bodi tahun 1974. Tahun 1978-1982 banyak membantu musik film bersama teman-teman LPKJ Jakarta. 1983-1990 solo karier dalam musik alternatif. 1993 sampai sekarang lebih banyak berkecimpung dalam musik kontemporer dan membantu teman-teman pelukis Yogya.

Juga membuat seni instalasi gerak, aktif melukis dan pameran.

Bernhard Andreas Palm, Bali – Swiss

(perkusi, gamelan Goa Gong, performance)

 Lahir di Basel, Switzerland pada Mei 1992. Belajar seni fotografi dari Hugo J. Jaeggi yang juga seorang musisi, sambil menyelesaikan magang bekerja di Sekolah Seni Basel. Bergabung dengan kelompok legendaris Space Rock “Brainticket” sebagai penabuh drum. Mengajar musik kontemporer dan teater anak-anak dan pertunjukan boneka. Menjadi anggota orkes gamelan pada Akademi Musik di Basel, yang membawanya dalam dunia musik Bali.

1981-1987 mendapat ijin riset LIPI Jakarta dan sponsor Akademi Seni Tari (ASTI) Denpasar. Selama empat tahun, Barni Palm dan Monika (istrinya) mendapat kehormatan mengajar secara aktif pada sekolah menengah atas (umum) Siddha-Mahan di Sidemen.

Fotografi, rekaman suara dan video merupakan bagian yang integral dari manuskrip dan dokumentasi mereka. Barni Palm mewujudkan khayalan melalui bunyi dan menciptakan bunyi melalui khayalan.

Wayan S. Jiwatman, Bali

(perkusi, gamelan goa gong, performance)

Lahir di Banjar Cagaan Pejeng Kangin, Tampaksiring, Bali, 1974. Pernah belajar seni lukis pada I Wayan Sika, tari dan lainnya. Kini bekerja sebagai seniman independen. Kolaborasi di TBS Solo bersama Beery, Afrizal dan Joseph Praba.

Guntur, Yogyakarta

(performance, perkusi gamelan goa gong, public relation)

 

Jamal El Triport, Yogyakarta

(performance, ast. Koordinator artis, perkusi gamelan batu)

 

Yullie, Amik, Ika, Yogyakarta

(performance)

 

Dhenok Cs, Yogyakarta

(dokumentasi foto-video)

Ucapan Terimakasih:

  • Bapak Bupati Kabupaten Pacitan
  • Bapak Endra Waluya, Camat Kecamatan Punung
  • Ibu Turami, Kepala Desa Bomo
  • Masyarakat Desa Bomo

Melayang Batu

Media: Oilpaint, Akrilik, Kanvas

Ukuran : 100 x 100 x 1 cm

Tahun: 2009

Melayang Batu

Melayang Batu

Serpih Batu

Media: Oilpaint, Akrilik, Kanvas

Ukuran : 100 x 100 x 1 cm

Tahun 2009

Serpih Batu

Serpih Batu